Sensai Berfoto di Pantai Nangakeo Ende

ENDE — Pantai Nangakeo di Desa Bhera Mari, Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende memiliki spot foto yang indah tetapi cukup menantang. Spot dimaksud di sebelah barat Pelabuhan Nangakeo, jarak dari pelabuhan kurang lebih 100 meter. Keunikannya ada bukit yang tebingnya berwarna krem dan sedikit menjorot ke laut. Tak hanya itu, di bawah tebing ada semacam pelataran batu datar yang cukup luas, yang langsung […]

Sumber : Istimewa (Pos Kupang)

ENDE — Pantai Nangakeo di Desa Bhera Mari, Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende memiliki spot foto yang indah tetapi cukup menantang.

Spot dimaksud di sebelah barat Pelabuhan Nangakeo, jarak dari pelabuhan kurang lebih 100 meter. Keunikannya ada bukit yang tebingnya berwarna krem dan sedikit menjorot ke laut.

Tak hanya itu, di bawah tebing ada semacam pelataran batu datar yang cukup luas, yang langsung bersentuhan dengan laut.

Berdiri di pelataran batu ini perlu hati-hati karena cukup licin. Namun di sinilah spot foto menarik, apalagi ketika ketika ombak menyabu pelataran batu.

Puluhan remaja putri dan orang tua tampak asyik berfoto di pelataran batu tersebut.

Tampak beberapa remaja panik ketika ombak menyabu pelataran batu, namun ada ada juga yang melompat sembari melebarkan tangan dan tersenyum. Sementara cipratan ombak meliputi mereka.

Elsa salah seorang pengunjung mengatakan, awalnya ia enggan berpose di pelataran batu tersebut, namun setelah mencoba dia akhirnya lebih berani dan bahkan beberapa kali berpose di pelataran batu tersebut.

“Sensasinya luar biasa, apalagi ketika ombak baik dan saya merasa seperti sedang berada di tengah badai, tapi setelah itu rasanya legah dan foto yang dihasilkan pun tampak alami dan sangat ekspresif,” ungkapnya.

Selain berfoto di pelataran batu para pengunjung juga membuat tenda, di pantai beberapa kurang lebih 50 meter dari pelataran batu. Tenda darurat itu mereka dirikan sebagai tempat istirahat dan makan-makan.

Selfiana, mengatakan potensi pariwisata pantai di Ende sangat banyak dan tentu saja menarik. “Pantai Nangakeo ini salah satunya, di Ende banyak sekali tempat yang indah,” katanya.

Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Ende perlu lebih gencar memperkenalkan pariwisata pantau di Kabupaten Ende.

Menurutnya, promosi perlu dilakukan. “Sekarang kita punya wadah untuk promosi tinggal bagaimana tempat-tempat itu dieksplor,” ungkapnya.

Tak hanya itu, menurut Selfiana, cerita-cerita di balik tempat-tempat wisata perlu diangkat sehingga menambah daya tarik.

“Saya yakin ada cerita-cerita, mungkin legenda di balik tempat-tempat menarik di Ende, itu bagus kalau di kemas dan publikasi, bisa tambah minat wisatan untuk datang,” ungkapnya.

Sementara pelabuhan Nangakeo, menurut para pengunjung dan warga setempat sudah lama tidak beroperasi lagi dan kondisinya memerihatinkan. Semua fasilitas pelabuhan yang terletak di Desa Bhera Mari itu sudah rusak parah.

Dapura menuju pelabuhan sudah berantakan, atap dan seng bergelantungan, di gapura ada pos jaga namun sudah ditutupi tumbuhan liar.

Sebelah kiri setelah masuk gapura ada dua bangunan rumah tembok, namun atap dan pelafonnya sudah roboh. Sementara jalan menuju ruang tunggu dari gapura sudah ditumbuhi rumput liar.

Ruang tunggu pelabuhan lebih parah lagi. Semua fasilitas dalam ruang tunggu seperti meja dan kursi sudah tidak ada lagi. Tidak hanya itu semua kaca pintu dan jendela susah pecah dan berjahamburan di lantai.

Dinding-dinding ruang tunggu dipenuhi gambar dan tulisan, paling banyak gambar dan tulisan tak senonoh.

Sementara itu kondisi dermaga juga amat memerhatikan, pos jaga, jembatan sudah rusak parah. Tampak beberapa warga sedang memancing dari atas dermaga.

Asomon Karim, salah seorang warga yang tengah menjemur biji kakao di halaman belakang ruang tunggu, pelabuhan Nangakeo sudah sangat lama tidak digunakan lagi.

“Kalau tidak salah tahun 2010 itu tidak ada lagi kapal di sini. Kami di sini jemur kakao di halaman ini. Kalau dalam ruang tunggu itu, memang parah sekali, itu kursi dan meja tidak ada lagi orang sudah ambil, tidak tau siapa,” ungkapnya.

Menurutnya sejak pelabuhan itu tidak digunakan lagi, mereka mulai jemur kakao di halaman depan ruang tunggu.

Dia katakan, ruang tunggu pelabuhan tersebut sering digunakan oleh warga terutama kaum muda-mudi untuk mabuk-mabuk dan pacaran. “Itu lihat gambar-gambar di dalam kalau sudah mabuk mereka mulai buat sembarangan,” katanya.

Asomon sendiri, dulunya berharap dengan adanya pelabuhan tersebut mereka bisa punya peluang usaha atau menjadi buruh pelabuhan. “Tapi ini tidak pakai lagi, ya sudah. Bangunnya mungkin tahun 2003, kalau tidak salah,” ungkapnya.

Pelabuhan Nangakeo berhenti beroperasi tidak hanya menyebabkan fasilitas pelabuhan rusak, berantakan dan beralih fungsi.

Dampak lain dirasakan pedagang asongan. Mereka dililit utang karena tidak bisa membayar cicilan Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang dipakai untuk modal usaha.

Tidak hanya itu, Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) selama ini dibayar oleh Kades Bhera Mari, Pare Pua Salama, mengunakan uang pribadi.

“Yah mau bagaimana lagi setiap tahun saya harus bayar sendiri, tidak ada anggaran khusus dana dari desa untuk bayar pajak,” ungkapnya.

Dia katakan, jika ia tidak membayar pajak maka dampaknya besar terhadap desa yang dipimpinnya itu, yakni mereka tidak mendapat rekomendasi untuk urusan apapun.

“Saya pikir masyarakat sekarang, kalau tidak bayar pajak, lalu bagaimana urusan lain. Aturannya kalau tidak bayar pajak, maka kita tidak bisa dapat rekomendasi untuk urusan apapun di desa. Kan kasihan masyarakat juga,” katanya.

Dia menyebut, pelabuhan Nangakeo tersebut milik Dinas Perhubungan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Kan harusnya dinas yang bayar, tapi saya tidak mau sebut mereka tidak mau bayar tapi faktanya memang tidak bayar, jadi saya demi masyarakat saya bayar pakai uang pribadi,” ungkapnya.

“Jadi problemnya begini, itu dermaga ada di desa kami, kalau tidak bayar pajak, seperti yang saya bilang tadi ada dampaknya. Walaupun seharusnya itu dibayar Dinas Perhubungan Provinsi NTT,” tambahnya.

Lebih lanjut, dia jelaskan, pelabuhan tersebut dibangun pada 2003 dan selesai 2005. Namun pada tahun 2010 berhenti beroperasi, sempat beroperasi kembali beberapa bulan di tahun 2014, lalu berhenti lagi hingga saat ini.

Menurutnya sejak awal pembagunan pelabuhan tersebut terjadi pro dan kontra antara PT yang bertanggung jawab mengerjakan dengan warga setempat mengenai letak dermaga.

“Kalau yang sudah terbangun saat ini itu bukan kemauan warga tapi dari PTnya. Warga usulkan dermaganya harus agak menyerong sehingga tampak lurus dengan tanjung ia. Yang dibangun kan bukan seperti itu, malah lurus ke arah barat sehingga ketika ombak datang pukul kapal dan pasti guncangan besar antara kapal dengan dermaga,” jelasnya.

Akibatnya, kata Kades, saat kapal berlabuh tidak bisa lama-lama karena terus dipukul ombak. Dampak ikutannya dagangan warga pedagang asongan tidak laku, karena kapal hanya berlabuh sebentar saja.

“Saya pernah omong dengan kapten kapal saat dermaga ini masih operasi, saya bilang pak kenapa tidak lama sedikit berlabuh kasihan kan pedangang dagangannya tidak laku. Kapten jawab kalau terlalu lama air makin banyak masuk ke dalam kapal dan itu berbahaya. Dia bilang begitu,” ungkapnya. Kades mengaku ingin agar ada solusi terkait problem yang mereka hadapi tersebut, terutama para pedagang asongan yang sampai saat ini masih terlilit utang juga biaya pajak yang seharusnya dibayar oleh Dinas Perhubungan Provinsi NTT.

Sumber : Istimewa (Pos Kupang)
Posting : Fajar Manik

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *